Judul : Catatan Harian Seorang Mafia
Pajak
Pengarang : Heri Prabowo
Penerbit : Edelwiss, Jakarta
Tahun : 2010
Tebal buku : 295 halaman
Peresensi : Aisah Kumala Sari
Siapa yang tidak tahu kisah Gayus Halomoan P. Tambunan, seorang pegawai pajak
yang memiliki rekening berjumlah milyaran rupiah, jumlah yang tidak wajar untuk
seorang PNS golongan III A. Gayus disinyalir terlibat skandal penggelapan dana
wajib pajak. Namun sebenarnya Gayus bukanlah satu-satunya mafia pajak di negeri
ini. Aktifitas mafia pajak ini sudah sangat mengakar di kantor pajak yang
dituding-tuding dipenuhi oleh para koruptor. Ada oknum-oknum mafia pajak yang
lebih besar, lebih kuat, dan tak tersentuh dibalik kasus Gayus tersebut.
Ketika kasus Gayus ini mencuat ke publik dan dengan
ditambah pengalamannya sebagai seorang mantan mafia pajak, Heru Prabowo merasa
tergelitik untuk membeberkan wajah buruk negeri ini melalui sebuah buku. Dalam
buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak yang ditulis oleh Heru Prabowo ini,
yang juga merupakan kakak tingkat Gayus di STAN, mengungkap secara gamblang dan
blak-blakan bahwa negeri ini benar-benar bobrok. Penulis tidak hanya mengungkap
kasus korupsi yang dilakukan oleh para pegawai pajak sekelas Gayus, tetapi juga
mengisahkan tentang praktik kecurangan yang dilakukan oleh para oknum
kepolisian dan kejaksaan seperti jual beli kasus, bisnis layanan khusus di
balik jeruji hingga kasus sindikat mafia hukum.
Buku ini menceritakan kisah Dimas Prakoso, seorang
pegawai pajak rendahan di salah satu kantor pajak di Surabaya yang terjerat
kasus faktur fiktif dan harus meringkuk di balik jeruji selama lima bulan
meninggalkan Uma, istrinya yang sedang berbadan dua. Dimas yang juga merupakan
mantan santri di sebuah ma’had, ternyata tidak mampu mempertahankan idealisme
mahasiswa yang didapatnya semasa kuliah di STAN PRODIP. Ia terikut arus praktik
korupsi di kantor pajak tempat ia bekerja yang ternyata merupakan hal lumrah
guna mendapatkan penghasilan tambahan dari pembayar pajak. Dimas mendapat
“pelajaran” tentang korupsi secara gratis dari rekan-rekan kantornya, mulai mengundurkan
tanggal pembayaran wajib pajak, permainan restitusi, hingga perubahan database
bagi orang pajak.
Selayaknya manusia yang penuh nafsu, Dimas tidak puas dengan
melakukan job ceperan yang hanya mencukupi pembayaran cicilan mobil dan
rumahnya. Selain itu dendam terhadap sang mantan kekasih, Lintang yang
meninggalkannya demi menikahi seprang pengusaha kaya, semakin membuat ia ingin
mendapatkan kekayaan secara instan. Ia termakan bujuk rayu dan tipu daya para
koleganya yang membuatnya terlibat dalam skandal pembuatan faktur pajak fiktif
yang beromset milyaran rupiah.
Ketika penyidik pajak melakukan sebuah gebrakan dua tahun
kemudian, ia pun diciduk dan dijebloskan ke tahanan bersama Anton, Sandi,
Tommi, dan Huda. Mereka dituduh telah merugikan negara sebesar empat milyar
rupiah. Namun sialnya hal itu terjadi ketika ia berusaha untuk insyaf dan
meninggalkan pekerjaan kotornya. Ternyata langkah salah yang ia tempuh dulu
tidak membiarkannya berlalu begitu saja.
Usut punya usut, Dimas kemudian menyadari bahwa ia
ternyata dikambing hitamkan oleh atasannya. Ia ditumbalkan agar para pejabat
yang merupakan mafia pajak sesungguhnya tetap aman dan tak tersentuh oleh hukum.
Bahkan Pak Roy, atasan Dimas yang mengincar jabatan Dirjen Pajak atau
setidaknya Sekditjen, melakukan pencitraan agar dianggap bersih dengan melakukan
gerakan anti korupsi.
Walaupun buku ini bersifat fiktif, namun segala praktik
dan modus yang dilakukan oleh oknum perpajakan diekspos secara terang-terangan.
Penulis mengupas secara detail trik-trik yang biasa digunakan oleh petugas
pajak. Sayangnya, gaya penulisan buku ini masih belum matang, seperti paragraf
yang berloncatan ide-idenya, dan karakter penokohan yang kurang kuat sehingga
membingungkan pembaca.
Namun
menariknya, penulis menyebut inisial “DW” dalam buku ini yang kemudian menjadi
tanda tanya besar ketika Dhana Widyatmika, mantan Ditjen Pajak, ditahan pada 2
Maret 2012 dengan tuduhan kasus korupsi dan penucican uang. Suatu kebetulan
ataukah penulis memang mengetahui sesuatu?
Melalui
buku ini penulis juga berusaha mengingatkan pembaca bahwa korupsi ada
dimana-mana, dan keteguhan hatilah yang menjadi kunci utama agar terhindar dari
segala praktik kotor tersebut. Buku ini membuka mata rakyat Indonesia untuk
melihat kebobrokan sistem birokrasi yang rentan korup di negeri ini, betapa
kebobrokan itu bersifat sistenatis dan melembaga.

0 comments:
Post a Comment