January 13, 2013

Mantan Mafia Pajak Buka Suara

Posted by Aisah at 3:45 PM

Judul                : Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
Pengarang        : Heri Prabowo
Penerbit            : Edelwiss, Jakarta
Tahun               : 2010
Tebal buku       : 295 halaman
Peresensi          : Aisah Kumala Sari

            Siapa yang tidak tahu kisah Gayus Halomoan P. Tambunan, seorang pegawai pajak yang memiliki rekening berjumlah milyaran rupiah, jumlah yang tidak wajar untuk seorang PNS golongan III A. Gayus disinyalir terlibat skandal penggelapan dana wajib pajak. Namun sebenarnya Gayus bukanlah satu-satunya mafia pajak di negeri ini. Aktifitas mafia pajak ini sudah sangat mengakar di kantor pajak yang dituding-tuding dipenuhi oleh para koruptor. Ada oknum-oknum mafia pajak yang lebih besar, lebih kuat, dan tak tersentuh dibalik kasus Gayus tersebut.
            Ketika kasus Gayus ini mencuat ke publik dan dengan ditambah pengalamannya sebagai seorang mantan mafia pajak, Heru Prabowo merasa tergelitik untuk membeberkan wajah buruk negeri ini melalui sebuah buku. Dalam buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak yang ditulis oleh Heru Prabowo ini, yang juga merupakan kakak tingkat Gayus di STAN, mengungkap secara gamblang dan blak-blakan bahwa negeri ini benar-benar bobrok. Penulis tidak hanya mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh para pegawai pajak sekelas Gayus, tetapi juga mengisahkan tentang praktik kecurangan yang dilakukan oleh para oknum kepolisian dan kejaksaan seperti jual beli kasus, bisnis layanan khusus di balik jeruji hingga kasus sindikat mafia hukum.
            Buku ini menceritakan kisah Dimas Prakoso, seorang pegawai pajak rendahan di salah satu kantor pajak di Surabaya yang terjerat kasus faktur fiktif dan harus meringkuk di balik jeruji selama lima bulan meninggalkan Uma, istrinya yang sedang berbadan dua. Dimas yang juga merupakan mantan santri di sebuah ma’had, ternyata tidak mampu mempertahankan idealisme mahasiswa yang didapatnya semasa kuliah di STAN PRODIP. Ia terikut arus praktik korupsi di kantor pajak tempat ia bekerja yang ternyata merupakan hal lumrah guna mendapatkan penghasilan tambahan dari pembayar pajak. Dimas mendapat “pelajaran” tentang korupsi secara gratis dari rekan-rekan kantornya, mulai mengundurkan tanggal pembayaran wajib pajak, permainan restitusi, hingga perubahan database bagi orang pajak.
            Selayaknya manusia yang penuh nafsu, Dimas tidak puas dengan melakukan job ceperan yang hanya mencukupi pembayaran cicilan mobil dan rumahnya. Selain itu dendam terhadap sang mantan kekasih, Lintang yang meninggalkannya demi menikahi seprang pengusaha kaya, semakin membuat ia ingin mendapatkan kekayaan secara instan. Ia termakan bujuk rayu dan tipu daya para koleganya yang membuatnya terlibat dalam skandal pembuatan faktur pajak fiktif yang beromset milyaran rupiah.
            Ketika penyidik pajak melakukan sebuah gebrakan dua tahun kemudian, ia pun diciduk dan dijebloskan ke tahanan bersama Anton, Sandi, Tommi, dan Huda. Mereka dituduh telah merugikan negara sebesar empat milyar rupiah. Namun sialnya hal itu terjadi ketika ia berusaha untuk insyaf dan meninggalkan pekerjaan kotornya. Ternyata langkah salah yang ia tempuh dulu tidak membiarkannya berlalu begitu saja.
            Usut punya usut, Dimas kemudian menyadari bahwa ia ternyata dikambing hitamkan oleh atasannya. Ia ditumbalkan agar para pejabat yang merupakan mafia pajak sesungguhnya tetap aman dan tak tersentuh oleh hukum. Bahkan Pak Roy, atasan Dimas yang mengincar jabatan Dirjen Pajak atau setidaknya Sekditjen, melakukan pencitraan agar dianggap bersih dengan melakukan gerakan anti korupsi.
            Walaupun buku ini bersifat fiktif, namun segala praktik dan modus yang dilakukan oleh oknum perpajakan diekspos secara terang-terangan. Penulis mengupas secara detail trik-trik yang biasa digunakan oleh petugas pajak. Sayangnya, gaya penulisan buku ini masih belum matang, seperti paragraf yang berloncatan ide-idenya, dan karakter penokohan yang kurang kuat sehingga membingungkan pembaca.
Namun menariknya, penulis menyebut inisial “DW” dalam buku ini yang kemudian menjadi tanda tanya besar ketika Dhana Widyatmika, mantan Ditjen Pajak, ditahan pada 2 Maret 2012 dengan tuduhan kasus korupsi dan penucican uang. Suatu kebetulan ataukah penulis memang mengetahui sesuatu?
Melalui buku ini penulis juga berusaha mengingatkan pembaca bahwa korupsi ada dimana-mana, dan keteguhan hatilah yang menjadi kunci utama agar terhindar dari segala praktik kotor tersebut. Buku ini membuka mata rakyat Indonesia untuk melihat kebobrokan sistem birokrasi yang rentan korup di negeri ini, betapa kebobrokan itu bersifat sistenatis dan melembaga.

0 comments:

Post a Comment

 

Mosaics of The Journey Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting