January 15, 2013

The Mosaics of The Journey

Posted by Aisah at 8:34 PM 0 comments
 The journey of a thousand miles begins with one step - Lao Tzu

Menurutku quotes dari Lao Tzu itu emang benar. Mau sejauh apapun perjalanannya pasti di mulai dari langkah pertama. On a journey means you step out from your comfort zone, far away from a comfy home. Home is far behind us, but the world is in front of us. buat aku journey itu bukan cuma pergi travelling atau liburan ke suatu tempat. Journey di sini juga berarti perjalanan hidup.

Life is a journey. 

Hari ini kita melakukan apa, bertemu siapa, mengalami apa bakal jadi hari kemarin di hari esok. Hari kemarin menjadi memory, entah itu bagus atau buruk. And the memories are the mosaics. What we do in life is arranging the mosaics of life.

Life is mosaics of pleasures and pains.

Apa yang terjadi di masa lalulah yang menentukan kita hari ini dan besok. Seperti mosaics yang saling berhubungan, berkaitan, dan satu kesatuan seperti itulah hidup dalam pandanganku. You are not complete yet if there's a piece of it is missing. So, be on a journey and arranging the mosaics of your life, people ! jangan sampai ada kepingan mozaik yang terlewat dalam perjalananmu :)



January 13, 2013

Mantan Mafia Pajak Buka Suara

Posted by Aisah at 3:45 PM 0 comments

Judul                : Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
Pengarang        : Heri Prabowo
Penerbit            : Edelwiss, Jakarta
Tahun               : 2010
Tebal buku       : 295 halaman
Peresensi          : Aisah Kumala Sari

            Siapa yang tidak tahu kisah Gayus Halomoan P. Tambunan, seorang pegawai pajak yang memiliki rekening berjumlah milyaran rupiah, jumlah yang tidak wajar untuk seorang PNS golongan III A. Gayus disinyalir terlibat skandal penggelapan dana wajib pajak. Namun sebenarnya Gayus bukanlah satu-satunya mafia pajak di negeri ini. Aktifitas mafia pajak ini sudah sangat mengakar di kantor pajak yang dituding-tuding dipenuhi oleh para koruptor. Ada oknum-oknum mafia pajak yang lebih besar, lebih kuat, dan tak tersentuh dibalik kasus Gayus tersebut.
            Ketika kasus Gayus ini mencuat ke publik dan dengan ditambah pengalamannya sebagai seorang mantan mafia pajak, Heru Prabowo merasa tergelitik untuk membeberkan wajah buruk negeri ini melalui sebuah buku. Dalam buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak yang ditulis oleh Heru Prabowo ini, yang juga merupakan kakak tingkat Gayus di STAN, mengungkap secara gamblang dan blak-blakan bahwa negeri ini benar-benar bobrok. Penulis tidak hanya mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh para pegawai pajak sekelas Gayus, tetapi juga mengisahkan tentang praktik kecurangan yang dilakukan oleh para oknum kepolisian dan kejaksaan seperti jual beli kasus, bisnis layanan khusus di balik jeruji hingga kasus sindikat mafia hukum.
            Buku ini menceritakan kisah Dimas Prakoso, seorang pegawai pajak rendahan di salah satu kantor pajak di Surabaya yang terjerat kasus faktur fiktif dan harus meringkuk di balik jeruji selama lima bulan meninggalkan Uma, istrinya yang sedang berbadan dua. Dimas yang juga merupakan mantan santri di sebuah ma’had, ternyata tidak mampu mempertahankan idealisme mahasiswa yang didapatnya semasa kuliah di STAN PRODIP. Ia terikut arus praktik korupsi di kantor pajak tempat ia bekerja yang ternyata merupakan hal lumrah guna mendapatkan penghasilan tambahan dari pembayar pajak. Dimas mendapat “pelajaran” tentang korupsi secara gratis dari rekan-rekan kantornya, mulai mengundurkan tanggal pembayaran wajib pajak, permainan restitusi, hingga perubahan database bagi orang pajak.
            Selayaknya manusia yang penuh nafsu, Dimas tidak puas dengan melakukan job ceperan yang hanya mencukupi pembayaran cicilan mobil dan rumahnya. Selain itu dendam terhadap sang mantan kekasih, Lintang yang meninggalkannya demi menikahi seprang pengusaha kaya, semakin membuat ia ingin mendapatkan kekayaan secara instan. Ia termakan bujuk rayu dan tipu daya para koleganya yang membuatnya terlibat dalam skandal pembuatan faktur pajak fiktif yang beromset milyaran rupiah.
            Ketika penyidik pajak melakukan sebuah gebrakan dua tahun kemudian, ia pun diciduk dan dijebloskan ke tahanan bersama Anton, Sandi, Tommi, dan Huda. Mereka dituduh telah merugikan negara sebesar empat milyar rupiah. Namun sialnya hal itu terjadi ketika ia berusaha untuk insyaf dan meninggalkan pekerjaan kotornya. Ternyata langkah salah yang ia tempuh dulu tidak membiarkannya berlalu begitu saja.
            Usut punya usut, Dimas kemudian menyadari bahwa ia ternyata dikambing hitamkan oleh atasannya. Ia ditumbalkan agar para pejabat yang merupakan mafia pajak sesungguhnya tetap aman dan tak tersentuh oleh hukum. Bahkan Pak Roy, atasan Dimas yang mengincar jabatan Dirjen Pajak atau setidaknya Sekditjen, melakukan pencitraan agar dianggap bersih dengan melakukan gerakan anti korupsi.
            Walaupun buku ini bersifat fiktif, namun segala praktik dan modus yang dilakukan oleh oknum perpajakan diekspos secara terang-terangan. Penulis mengupas secara detail trik-trik yang biasa digunakan oleh petugas pajak. Sayangnya, gaya penulisan buku ini masih belum matang, seperti paragraf yang berloncatan ide-idenya, dan karakter penokohan yang kurang kuat sehingga membingungkan pembaca.
Namun menariknya, penulis menyebut inisial “DW” dalam buku ini yang kemudian menjadi tanda tanya besar ketika Dhana Widyatmika, mantan Ditjen Pajak, ditahan pada 2 Maret 2012 dengan tuduhan kasus korupsi dan penucican uang. Suatu kebetulan ataukah penulis memang mengetahui sesuatu?
Melalui buku ini penulis juga berusaha mengingatkan pembaca bahwa korupsi ada dimana-mana, dan keteguhan hatilah yang menjadi kunci utama agar terhindar dari segala praktik kotor tersebut. Buku ini membuka mata rakyat Indonesia untuk melihat kebobrokan sistem birokrasi yang rentan korup di negeri ini, betapa kebobrokan itu bersifat sistenatis dan melembaga.

Sepenggal Kisah Inspiratif si “Wanita Besi”

Posted by Aisah at 3:41 PM 0 comments


Judul               : The Iron Lady
Durasi             : 1 jam 45 menit
Genre              : Drama
Pemain            : Meryl Streep, Jim Broadbent, Anthony Head, Richard E Grant
Sutradara         : Phyllida Lloyd

“One of the great problems of our age is that we are governed by people who care more about feelings than they do about thoughts and ideas. Thoughts and ideas. That interests me. Ask me what I’m thinking.” – Margaret Thatcher

Margaret Thatcher adalah mantan Perdana Menteri Inggris yang menjabat selama tiga periode, seorang tokoh politik yang berpengaruh  di dunia. The Iron Lady mengangkat kisah kehidupan wanita yang insipiratif dan ambisius ini. Dalam film ini Margaret Thatcher diperankan oleh aktris senior yang pernah meraih Oscar, Meryl Streep.
The Iron Lady atau “wanita besi” adalah julukan untuk Margaret Thatcher yang terkenal karena sifat keras kepalanya dalam memegang prinsip. Film ini berawal dengan menampilkan masa tua Margaret, seorang wanita tua yang independen dan keras kepala. Namun di balik semua itu Margaet tua merasa kesepian hingga menghadirkan ilusi mendiang suaminya, Denis Thatcher. Suami Margaret yang diperankan oleh Jim Broadbent digambarkan sebagai seorang yang penyabar dan nyentrik.
Dengan alur maju mundur, penonton diajak melihat kilas balik kehidupan dan perjalanan karir Margaret Thatcher yang menembus batas sosial dari seorang putri pedagang yang biasa-biasa saja hingga menjadi wanita pertama yang terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris. Di masa mudanya pun Margaret dikenal sebagai seorang wanita yang cerdas dan ambisius. Ia menempuh pendidikan di Oxford dan setelah lulus ia bergabung dengan Partai Konservatif, yang kemudian mempertemukannya dengan Denis Thatcher.
Margaret lalu mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen Inggris dan diskriminasi gender menjadi salah satu hambatan yang dihadapinya saat itu. Meskipun awalnya kalah tetapi ia tetap mengejar ambisinya dan berhasil menjadi anggota Parlemen Inggris pada tahun 1959, menjadi Menteri Pendidikan Inggris. Pada tahun 1975 ia menjabat sebagai ketua Partai Konservatif, hingga akhirnya berhasil memenangkan pemilu dan menjadi Perdana Menteri Inggris pada tahun 1979.
Di bawah kepemimpinan Margaret, Inggris mengalami kemajuan di bidang ekonomi, sosial dan politik. Namun masa kejayaan Maraget sebagai Perdana Menteri Inggris bukan berarti tanpa kontroversi. Keputusan Margaret yang paling kontrroversial adalah ketika ia menyatakan perang dan menembakkan rudal ke kapal Argentina pada tahun 1982 yang membuatnya dicerca oleh lawan politik dan rakyat.
Ketika kebijakan yang dibuat Maraget dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman dan membahayakan posisi Partai Konservatif, rekan-rekan separtainya sepakat untuk menggulingkannya. Pada tahun 1990 Margaret melepaskan jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris. Selepas dari jabatannya, Margaret lebih banyak mengasingkan diri hingga ia mengidap penyakit dementia yang sulit membedakan masa lalu dan masa sekarang.
Akting Meryl Streep pada film ini bisa dibilang nyaris sempurna. Meryl Streep tidak hanya berhasil menirukan aksen Inggris dan penampilan Margaret dengan sangat baik tetapi juga sangat menjiwai perannya. Sehingga setiap orang yang menontonnya akan sangat yakin bahwa Margaret adalah sosok wanita yang cerdas, ambisius, dan keras kepala.
The Iron Lady tidak hanya mengisnpirasi untuk melawan diskriminasi gender, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa dengan usaha dan kerja keras maka impian pun akan tercapai.



 

Mosaics of The Journey Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting